Jakarta – Keselamatan lalu lintas di Indonesia diharapkan menjadi hasil kolaborasi antara negara dan masyarakat melalui inisiatif Polantas Menyapa dan Melayani 2026. Pendekatan ini menempatkan jalan raya bukan hanya sebagai lintasan kendaraan, melainkan sebagai ekosistem bersama yang membutuhkan peran serta seluruh aktor, dari pengendara kendaraan pribadi, angkutan umum, pengemudi ojek online, pejalan kaki, hingga aparat negara.
Dipimpin oleh Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., Korps Lalu Lintas Polri menyadari bahwa penegakan hukum saja tidak cukup. Keselamatan lalu lintas harus menjadi budaya bersama yang tumbuh dari kesadaran kolektif.
Inspirasi dari konsep Vision Zero yang berkembang di Swedia diaplikasikan dengan kearifan lokal berupa nilai gotong royong. “Keselamatan tidak bisa dijaga sendirian. Ia harus dijaga bersama,” tegas Irjen Agus Suryonugroho. Polantas Menyapa dan Melayani menekankan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan keselamatan yang berkelanjutan lewat dialog dan penguatan tanggung jawab sosial.
Pendekatan ini mengubah paradigma lama yang memandang keselamatan sebagai tugas aparat saja, menjadi pola partisipatif di mana negara berperan mengarahkan dan melindungi, sementara masyarakat aktif menjaga serta saling menghormati aturan selama di jalan.
Salah satu fokus utama adalah pelibatan komunitas pengemudi ojek online sebagai agen keselamatan. Karena intensitas keterlibatan mereka di jalan raya, pengemudi ojol diajak untuk bertransformasi menjadi duta keselamatan yang menjadi contoh disiplin berlalu lintas. Hal ini diharapkan memperkuat pesan keselamatan secara efektif dan berkelanjutan.
Praktik kolaborasi ini selaras dengan konsep co-production of safety secara global, yang dalam konteks Indonesia diwujudkan melalui nilai musyawarah dan gotong royong. Polantas Menyapa dan Melayani juga menjadikan dialog sebagai strategi utama dalam menyerap aspirasi dan masukan komunitas.
Pendekatan ini memperkuat modal sosial berupa kepercayaan dan jaringan sosial yang memungkinkan masyarakat menjaga keselamatan tanpa pengawasan ketat. Kesadaran bersama ini mendorong kepatuhan yang lahir dari kesadaran bukan paksaan.
Lebih jauh, jalan raya dipandang sebagai ruang peradaban sosial di mana nilai-nilai etika seperti saling menghormati, disiplin, dan kepedulian diuji. Polantas dengan pendekatan humanis berperan membentuk budaya lewat interaksi yang sopan dan tindakan proaktif, seperti bantuan dalam situasi darurat.
Keselamatan lalu lintas yang diusung Polantas Menyapa dan Melayani 2026 merupakan investasi sosial jangka panjang untuk menurunkan angka kecelakaan sekaligus menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap negara. “Kami ingin keselamatan menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar kewajiban hukum,” tambah Irjen Agus Suryonugroho.
Program ini memadukan semangat global Vision Zero dengan nilai lokal gotong royong menciptakan sistem keselamatan jalan yang berkelanjutan dan efektif. Di tengah tantangan kompleksitas lalu lintas Indonesia, pendekatan ini memberikan harapan bahwa jalan raya bisa menjadi ruang yang aman, manusiawi, dan adil bagi seluruh pengguna.
Sumber: Korlantas Polri














