Jakarta – Sepanjang jalan nasional Indonesia, kendaraan pengangkut barang bergerak dengan kecepatan tinggi meskipun membawa beban yang melampaui batas aman. Praktik Over Dimension Over Load (ODOL) ini sering dijalankan oleh operator untuk mempercepat pengiriman, namun sebenarnya menimbulkan risiko besar bagi keselamatan dan keberlangsungan transportasi.
Perusahaan logistik menghadapi tekanan kuat untuk mengirimkan barang dalam jumlah besar dan tepat waktu. Keterlambatan pengiriman dapat menghancurkan kepercayaan pelanggan sekaligus menimbulkan kerugian finansial, sehingga banyak pengusaha mengambil jalan pintas dengan memaksakan muatan berlebih. Namun, langkah ini justru membuka peluang kecelakaan dan menimbulkan kerusakan pada kendaraan hingga terlambatnya pengiriman.
Transportasi barang merupakan pilar utama perekonomian Indonesia. Namun, Irjen Pol. Drs. Agus Suryo Nugroho, S.H., M.Hum., Kepala Korps Lalu Lintas Polri, menegaskan bahwa mengoperasikan kendaraan dengan muatan dan dimensi melebihi ketentuan mengancam keselamatan masyarakat serta merusak sistem logistik yang ada.
“Keselamatan dan produktivitas harus berjalan beriringan,” ujarnya tegas, menepis asumsi bahwa kelebihan muatan dapat meningkatkan keuntungan. Faktanya, kendaraan ODOL cenderung lebih sering mengalami kecelakaan dan kerusakan komponen serta menghadapi tindakan penindakan yang mengakibatkan biaya operasional membengkak dan menurunkan reputasi perusahaan.
Masalah ini berdampak luas, mulai dari konsumen yang ingin menerima barang dengan aman dan utuh, pengusaha yang membutuhkan distribusi stabil, hingga masyarakat yang berhak memiliki jalan yang tidak cepat rusak. Keberlangsungan rantai pasok bergantung pada logistik yang aman dan dapat dipercaya.
Oleh karena itu, pelaku usaha diimbau menjadikan keselamatan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan beban tambahan. Mematuhi batasan muatan dan dimensi kendaraan adalah investasi penting demi efisiensi jangka panjang. Indonesia berkomitmen menuju target Zero ODOL 2027 untuk mewujudkan sistem logistik yang aman, tertib, dan produktif, karena logistik yang selamat memiliki nilai jauh lebih tinggi daripada sekadar cepat.














